95% Manusia Alami Hipertensi: Simak Pengertian dan Gejalanya
27 Januari 2023
Ilustrasi | Shutterstock Image
KlikQu - Bagi sebagain banyak orang, mengalami sakit kepala adalah hal yang biasa. Anggapan kurang tidur atau terlalu banyak aktivitas menjadi salah dua alasan yang biasa digunakan masyarakat untuk melindungi rasa sakit di kepalanya. Kalaupun tidak kunjung mereda, obat warung adalah jalan keluarnya.
Akan tetapi, pernahkah Anda mengira bahwa sakit kepala atau pusing tersebut bisa menjelma menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Ahli ginjal dan hipertensi, Dr. dr. Afiatin SpPD-KGH,FINASIM, menjelaskan bahwa sakit kepala merupakan salah satu tanda seseorang mengidap penyakit hipertensi atau darah tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian baik dalam dan luar negeri, hipertensi merupakan penyakit pemicu komplikasi kesehatan kronik seperti gagal ginjal, jantung, dan stroke. Oleh karenanya, dr. Afiatin meminta masyarakat tidak pernah menyepelakan penyakit ini karena jika tidak ditangani dengan maksimal kematian adalah harga mahal yang harus dibayarkan.
Secara medis, penyebab hipertensi terbagi menjadi dua yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau yang biasa disebut sebagai hipertensi esensial merupakan hipertensi yang disebabkan oleh faktor genetic seperti dari keturunan keluarga. Pada kasus ini, cenderung terjadi secara bertahap dan sulit diidentifikasi.
Berbeda dengan primer, hipertensi sekunder biasanya terjadi karena ada penyakit pemicu. Seperti kelainan hormon, tumor, dan gagal ginjal akut. Hipertensi jenis ini biasanya terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah lebih tinggi dibandingkan hipertensi jenis lain.
"Tapi angkanya hipertensi esensial ini atau primer 95%--sehingga hipertensi datang dari genetik dan 5% dari sekunder," kata dr. Afiatin kepada Klikdialisis, Senin (7/11).
Pada umumnya, seseorang yang terkena hipertensi—khususnya primer—akan muncul di decade kelima dalam kehidupan atau pada usia 40-50 tahun. Dimana pada rentang usia tersebut akan jamak ditemui seseorang memiliki tensi 145.
Sementara itu, anak-anak hingga usia di bawah 40 tahun yang sudah terkena penyakit ini bisa dipastikan ia mengalami hipertensi sekunder. Sehingga diperlukan pengecekan kesehatan menyeluruh untuk memastikan penyakit pemicu yang sedang dialami.
"Misal saya punya bakat hipertensi tapi kalau lifestyle saya bagus hipertensi itu bisa tidak bermanifestasi. Ada istilah genotipe dan fenotipe. Meskipun ada gen hipertensi tapi kalau gaya hidupnya bagus dan mencegah hipertensi maka fenotipenya dia tidak hipertensi," ujarnya.
Oleh karena penyakit ini masuk ke dalam kategori silent killer, maka bagi kebanyakan orang yang mengidep hiperteni tidak mengalami gejala apapun. Sehingga jika seseorang memiliki gejala seperti sakit kepala, mimisan, masalah penglihatan, nyeri dada, telingan berdengung maka bisa dipastikan kondisi tubuhnya sudah tidak baik.
"Hipertensi ini susahnya kalau cuma tekanan darah tinggi saja dia nggak bergejala. Kalau ada gejala berarti sudah ada komplikasinya. Jadi kalau hipertensi nunggu komplikasi ya sudah terlambat makan orang harus diukur tensinya secara teratur," tutup dr. Afiatin. (ATR)