Cek Fakta: Benarkah Makanan Kaleng Berbahaya untuk Ginjal?
15 Februari 2023
Ilustrasi - resep dalam saus tomat dengan daun bawang | shutterstock image
KlikQu - Gaya hidup masyarakat Indonesia yang cenderung tidak mengindahkan kesehatan rawan menimbulkan risiko penyakit kardiovaskular. Sebagaimana diketahui, masyarakat kini senang—meskipun tidak semua--mengkonsumsi makanan olahan yang sudah mengalami proses kimia seperti pemanasan, pengeringan, pengalengan, hingga pembekuan.
Ahli Ginjal dan Hipertensi dr. Agung Tresna, SpPD-KGH, menjelaskan, perlu diakui bahwa deretan makanan olahan seperti yang sudah dijelaskan di atas mampu memperburuk fungsi ginjal bagi seseorang yang telah didiagnosis mengalami penyakit ginjal kronik. Sebagai contoh, makanan yang sudah mengikuti proses pengalengan memiliki kadar fosfat yang tinggi sehingga dapat memperburuk fungsi ginjal yang sudah rusak.
"Kalau dia (pasien) sudah gagal ginjal dan banyak makanan yang berkaleng itu tentu saja akan memperburuk kondisi pasien tersebut," kata dr. Agung kepada KlikQu, Jumat (13/1).
Dikutip dari pelbagai sumber, bagi pasien ginjal kronik, kelebihan kadar fosfat di dalam tubuh merupakan alarm bahaya yang harus diperhatikan. Jika tidak diatasi maka akan berdampak serius terhadap kekuatan tulang bahkan meningkatkan risiko jantung karena pembuluh darah terganggu.
"Ini bisa menjadi komplikasi atau yang bisa disebut sebagai pengendapat fosfat di dalam tubuh," ujarnya.
Di sisi lain, dari jurnal yang diterbitkan oleh Kidney International juga menyebutkan bahan kimia yang dipakai untuk produksi kaleng makanan bisa memicu penyakit ginjal dan kardiovaskular. Peneilitian ini menyebutkan kerusakan pada fungsi ginjal mampu memicu penyakit lainnya seperti jantung.
Jika dikaitkan sebagai penyebab penyakit ginjal untuk orang yang sebelumnya sehat, dr. Agung merasa hal itu masih harus didalami. Musababnya, banyak proses pengalengan yang dilakukan dengan teknik dan tata cara yang benar. Seperti mengikuti standar BPOM sehingga makanan kaleng tersebut tetap aman dipergunakan sesuai dengan standarnya. (ATR)