Jenis-Jenis Makanan Pemicu Penyakit Jantung Koroner
27 Januari 2023
Ilustrasi | Shutterstock image
KlikQu - Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebab seseorang terkena penyakit ginjal kronik adalah gaya hidup dan pola konsumsi makanan masyarakat yang cenderung tidak sehat. Kemajuan teknologi dan mudahnya mendapatkan makanan cepat saji turut mengubah pola konsumsi makanan masyarakat.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Dr. dr. Amiliana M. Soesanto, Sp.JP(K) menjelaskan, secara medis, penyakit jantung koroner ditandai dengan adanya penyempitan pembuluh darah di jantung. Kondisi ini memungkinkan otot jantung tidak mendapatkan aliran darah yang adekuat.
"Karena jantung merupakan organ yang sangat penting untuk tubuh kita, pola hidup sehat perlu untuk dilakukan oleh setiap orang, termasuk pola makan yang sehat," kata dr. Amiliana ketika berbincang dengan KlikQu, Rabu (21/12).
Adapun beberapa jenis makanan yang dapat memicu penyakit jantung koroner antara lain:
Gula
Banyak mengonsumsi gula dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit diabetes meliitus. Kondisi ini akan mempercepat terjadinya penyempitan pembuluh darah jantung.
Garam
Konsumsi garam yang tinggi lebih dari 2 gram perhari dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi. Kondisi tekanan darah yang tinggi dapat mempermudah terjadinya kerusakan pembuluh darah termasuk pembuluh darah jantung, yang berujung pada penyempitan atau sumbatan dari pembuluh darah jantung.
Lemak
Sebenarnya lemak terbagi menjadi dua macam yaitu lemak baik dan lemak jenuh atau lemak jahat. Konsumsi lemak jahat yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kolesterol. Seperti yang diketahui sebelumnya, kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner.
Oleh karenanya, dr. Amiliana merekomendasikan pola hidup yang sehat untuk mengimbangi pola makan yang kurang terjaga. Ia menganjurkan pola hidup dengan olahraga teratur—dianjurkan sekitar 150 menit dalam seminggu atau 30 menit selama lima kali/seminggu. Juga hingga makanan yang berlemak dan hindari obesitas (kurang karbohidrat).
"Serta perbanyak konsumsi serat dan protein," tutupnya. (ATR)