Panduan Isi Piringku untuk Jaga Keseimbangan Gizi pada Anak
09 Februari 2023
Ilustrasi | Shutterstock image
KlikQu - Era tahun 2000-an, anak-anak Indonesia selalu disusupi slogan empat sehat, lima sempurna, untuk mengukur kebutuhan gizi seimbang. Pada massa kini, slogan tersebut sudah bertransformasi menjadi pandungan isi piringku yang mengakomodir perkembangan ilmu gizi baru yang menggambarkan porsi makan seseorang.
Peneliti sekaligus Anggota Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Rahmi Dzhulhijjah, S. Gz, M,Gz, menjelaskan makna yang terkandung di dalam isi piringku ialah satu porsi makanan terdiri dari 50% karbohidrat dan protein, dan 50% sisanya buah dan sayur. Kampanye ini menekankan untuk mengawasi tingkat konsumsi garam, lemak jenuh, dan garam.
"Orang tua perlu mengetahui bahwa kebutuhan gizi seimbang akan berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan serta tingkat aktivitas fisik," kata Rahmi ketika berbincang bersama KlikQu, Kamis (19/1).
Lebih lanjut, menjelang Hari Gizi Nasional yang diperingati pada 25 Januari 2023, orang tua harus memantau status gizi anak dengan berkonsultasi bersama dokter atau ahli gizi. Hal ini menjadi penting mengingat kecukupan gizi pada anak menjadi hal fundamental bagi tumbuh kembang sang buah hati.
Ada sebuah pedoman yang dinamakan pedomana gizi seimbang yang bisa diimplementasikan oleh orang tua untuk anaknya yaitu dengan melalui enam kebiasaan baik diantaranya, beri anak asupan gizi sesuai dengan usianya, mengonsumsi beragam jenis makanan bergizi seimbang (semakin banyak jenis bahan makanan, terutama buah dan sayuran, semakin mungkin bagi anak untuk mengenal rasa, terbiasa mengonsumsinya, dan terpenuhi kebutuhan gizinya).
Mengatur porsi makan yang tepat bagi anak untuk menanamkan kebiasaan makan yang sehat. pastikan atur porsi yang sesuai dengan kebutuhannya dengan melihat Isi Piringku dari Kemenkes RI melalui Pedoman Gizi Seimbang (Isi Piringku). Terakhir, Menikmati makan bersama keluarga untuk memberi kesempatan lebih banyak agar anak berinteraksi dan berkomunikasi.
"Harapannya ketika sudah dewasa, anak sudah terbiasa menjalankan pola mindful eating yang diajarkan sebelumnya," ujarnya.
Sebagai catatan, indikator kekurangan gizi pada anak dapat dilihat dari berbagai parameter yaitu usia, berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Ada kategori hasil status gizi yang bisa dilihat yaitu berat badan menurut usia, berat badan menurut tinggi badan, tinggi badan menurut umur, dan lingkar kepala. Masing-masing menunjukan arti dari status gizi pada anak.
Dengan kecukupan gizin pada anak, Rahmi meyakini perkembangan anak akan maksimal dan akan menjaga kesehatan anak dari pelbagai penyakit. Termasuk penyakit berbahaya yang suatu waktu dapat mengintai kesehatan manusia di masa depan. (ATR)